Senin, 26 November 2007

Volunteer Schedule







Minggu, 21 Oktober 2007

Info Yayasan Maleo 21 October 2007

Untuk informasi pengurus Yayasan Maleo, Senin tangal 22 Oktober jam 14:00, 10 orang siswa Ibnu Sina diundang ke British School oleh siswa tahun ke 12 British School.Mereka akan ber-sama2 berlatih dan mempersiapkan drama yang akan dipentaskand di SDN Pondok Pucung.Mohon bantuan pengurus barangkali ada yang mempunyai waktu dan bersedia mendampingi siswa Ibnu Sina ke British School.

Terimakasih,


Sri Fuady

Selasa, 16 Oktober 2007

KEGIATAN BULAN RAMADHAN 2007


Laporan Iktikaf di Mesjid Bank Indonesia 9 Oktober 2007
Diikuti 19 orang siswa dengan pendamping: Bpk./Ibu Fuady dan Ibu Rina.

Laporan Kegiatan “PKL” siswa selama bulan Ramadhan
16 orang siswa menyampaikan keinginan nya untuk “magang” selama liburan sekolah di bulan Ramadhan, agar punya uang saku. Menanggapi keinginan ini 6 siswi ditempatkan di Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten (panti penyantunan dan rehabilitasi anak cacat ganda), 1 orang di Vietiendo (perusahaan export-import) dan 9 orang di Bimbingan Belajar Nurul Fikri Aksel, Bintaro sektor IX.

Mereka “bekerja” 8 hari selama 3 jam setiap harinya dan mendapat tugas menyuapi anak cacat, membersihkan ruangan, membereskan buku, mendampingi petugas luar dll. Dengan dana yang ditetima dari tiga orang donatur, setiap anak menerima uang saku Rp.100,000.-- untuk magang selama 8 hari ini.

Setelah Ramadhan, satu orang donatur bersedia melatih siswa untuk membuat /berjualan juice dan satu orang donatur lain meminta beberapa siswa untuk menjahit pinggiran anduk2 kecil, yang kemudian akan dijual. Diharapkan akan lebih banyak partisipasi dari perusahaan/masyarakat sekitar Bintaro sektor IX, untuk memberikan kesempatan “magang” kepada para siswa diwaktu mendatang.

Kunjungan ke British International School (BIS) setiap hari Rabu

Siswa tahun ke 12 BIS yang dikoordinir oleh: Julian, Toni, Debbie dan Maria mengundang 10 siswa Ibnu Sina, setiap Rabu dari jam 14:20 s/d selesai ke BIS. Siswa dan pengajar BIS akan bekerjasama untuk program ekskul Ibnu Sina a.l. kesenian (drama, melukis dll), komputer, sepak bola dan memasak. BIS menyediakan peralatan ekskul, dari Yayasan Maleo diharapkan pendamping dan transportasi. Supaya pengurus dapat memantau kegiatan ekskul, sebaiknya dibuat jadwal pengurus dan pengajar yang dapat mendampingi siswa. Biaya angkot 10 siswa ke BIS total Rp. 20,000/minggu.

Siswa Ibnu Sina mengusulkan kepada pengurus Yayasan, siswa yang terlambat lebih dari 4 kali atau tidak masuk lebih dari 3 kali dalam satu bulan, kehilangan kesempatan berkunjung ke BIS bulan berikutnya. Sesuai dengan data bulan September, 8 siswa tidak dapat mengikuti ekskul di BIS pada bulan Oktober.

Minat siswa kelas VI mendaftarkan ke SMP Ibnu Sina
Satu orang siswa dari SDN Pondok Pucung V menyampaikan bahwa dia dan semua teman dikelasnya ingin bersekolah di SMP Ibnu Sina, setelah lulus dari SD tahun depan.

Catatan mengenai bangunan sekolah

Waktu liburan sekolah telah diperbaiki papan lantai yang tidak rata karena memuai, kemudian diatas karpet yang ada dipasang triplex dan vinyl, tetapi karena vinyl nya tipis ternyata mudah sekali robek. Perbaikan lain: kunci pintu toilet dan lubang hawa yang copot, plafond, dinding bambu, cantolan besi yang bengkok, engsel credenza dari BIS dan beton selasar yang jebol.

Dipasang: pompa air listrik sumbangan dari Ketua Yayasan Maleo, dua artikel peresmian sekolah yang sudah dibingkai dan dua agenda dinding.

Laporan sumbangan yang diterima dalam bulan Ramadhan 2007

Pompa air listrik dan tanki air dari bpk. Djuli Kuntjoro
Sembako (untuk SMP dan TK) dari Ibu Patricia, Pondok Labu
Sembako dari teman Ibu Nana
Nasi kotak untuk buka dan saur dari mesjid Bank Indonesia waktu iktikaf.
Tajil dan makanan untuk buka puasa dari BIS
Kendaraan dan tip supir untuk ke Bank Indonesia dari ibu Renowati
Paving dari Ibu Anne
Pot2 beserta tanaman obat dari bpk. Agus Muhaeran
Pohon cabe dari bpk. Adrian
Infaq untuk pembelian 30 sajadah, dana untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL), buka puasa di rumah ibu Sumadji, sewa kendaraan untuk iktikaf, pemasangan rumput dan dana untuk perawatan/perbaikan sekolah.


LAPORAN INFAQ YANG DITERIMA BULAN RAMADHAN 2007

Dari Amanat peruntukan penggunaan dana Rp Sub Total
Ibu Yati Kamil Dana PKL 10 siswa 1,000,000
Ibu Yati Rukmana Dana PKL 5 siswa 500,000
Ibu Fuady Dana PKL 1 siswa 100,000 1,600,000


Ibu Imelda Pane Buka puasa di rumah Ibu Sumadji 1,500,000 1,500,000

Ibu En Sukri Bey 20 Sajadah @ Rp. 15,000 300,000
Ibu Fuady 10 Sajadah @ Rp. 15,000 150,000 450,000


Bpk Cepi Malik Sewa kendaraan antar jemput “Annisa” 300,000 300,000

Bpk. Fuady Sarana/prasarana sekolah 500,000
Ibu Fuady Pemasangan rumput 15m @ 25,000 375,000 875,000



TOTAL 4,725,000

Catatan :
Pemasangan pompa listrik, b iaya pemasangan Rp. 4.250.000,-, terdiri dari :- Pembelian pompa listrik biasa (non jetpump)- Pembuatan rumah pompa berupa ga-lian tanah 3 meter dgn dinding batako/semen.
Pompa ditempatkan di kedalaman 3 m.- Pembuatan menara pompa dari be-si setinggi +/- 3 meter.- Pembelian Tanki Air 500 liter- Pemasangan 2 keran air untuk wu-du di samping ruang WC- Pemasangan 1 keran air untuk me-nyiram tanaman di depan bangunansekolahPemasangan pompa air dilakukan karena pompa tangan yg dibangun kontraktor British School (Bpk Andy) mengalami kerusakan pada klep karet yg ditanam pada kedalaman 3 meter di dalam tanah.
Walaupun perbaikan dilakukan , kerusakan akan terus berulang karena klep karet tidak kuat menahan tekanan yg besar karena tinggi permukaan air sangat dalam yaitu dikedalaman 12 s/d 13 meter dari permukaan tanah. Disamping itu, perbaikan klep air akan sangat memakan biaya krn harus membongkar pondasi pompa yg terbuat dari semen.Pekerjaan pemasangan pompa listrik telah dilakukan sejak tgl. 9 s/d 11 Oktober 2007 dan dilanjutkan kembali tgl. 17 Oktober s/d 19 Oktober 2007. Direncanakan test akan dilakukan pada tgl. 18 Oktober 2007.

Untuk pemasangan paving diperlukan pasir 1 kijang dan 2 orang tukang untuk dua hari kerja, total biaya yang diperlukan sekitar Rp. 1 juta.

Jumat, 12 Oktober 2007

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428"

Segenap Pengurus Yayasan Maleo berserta anak didik SMPT Ibnu Sina mengucapkan :
"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428"
Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Minggu, 07 Oktober 2007

AGENDA SISWA SMPT IBNU SINA

AGENDA SISWA SMPT IBNU SINA


KAMIS, 27 SEPTEMBER
BUKA PUASA DI BRITISH INTERNATIONAL SCHOOL

JUM'AT, 28 SEPTEMBER
BUKA PUASA DI KEDIAMAN PENGURUS/PENGAJAR YAYASAN MALEO/SMPT IBNU SINA

SABTU DAN MINGGU 29/30 SEPTEMBER
PESANTREN KILAT DI MASJID PONDOK PUCUNG

SELASA, 9 OKTOBER
ITIKAF DI MASJID BANK INDONESIA, JALAN M.H. THAMRIN

RABU, 10 OKTOBER SD SABTU 20 OKTOBER
LIBUR IDUL FITRI

CATATAN:
BEBERAPA SISWA SELAMA BULAN RAMADHAN AKAN MEMBANTU PERAWAT YAYASAN SAYAP IBU, CABANG BINTARO. UNTUK MENYUAPI DAN MEMBACAKAN CERITA BAGI ANAK2 CACAT GANDA YANG DIRAWAT DI YAYASAN SAYAP IBU, BINTARO JAYA SEKTOR VI

Selasa, 18 September 2007

Photo peresmian SMP Ibnu Sina di kawasan Bintaro Jaya


Dari Kiri ke Kanan :
1. Sambutan dari Bapak Cepi
2. Sambutan dari Wakil Italy
3. Makan rame-rame





Dari Kiri ke Kanan :
1. Anak-anak TK nyanyi
2. Sekarang kakak kakak nya yang nyanyi ya...
3. Ruang Belajar kita..










Selasa, 11 September 2007

Bamboo school unites poor, international students

Bamboo school unites poor, international students
City News - September 05, 2007
The Jakarta Post, Jakarta


Dede, 14, flashed a bashful smile when asked how she liked her new school. It is made of bamboo and steel, measures some 5-by-7 cubic meters and is half-open, allowing a soft breeze to blow over the students as they study.

"I like being here," said Dede, wearing a white headscarf and her junior high school uniform.
The school, located near the Bintaro housing complex in Tangerang, has only one room with dozens of low-legged reddish brown wooden desks forming several lines on the blue-carpeted floor. No walls. An aisle divides the room into two.

The structure, which is movable, is equipped with a toilet in the back yard. In the front a large tree offers shade, hiding the humble building behinds its foliage.
"We don't have to study at someone else's place now because we already have our own classroom," she said during the school's official opening last weekend.

Another student, Adi, 14, agreed. Smiling brightly, he said: "It feels so natural here."
Adi and Dede are among 36 students of junior high school Ibnu Sina who have been using the building since the middle of July, when the new academic year started.
In the afternoon, after junior high school classes finish, 34 kindergartners from TK Sekar Harapan turn the building into a play area.

Students do not have to pay any fees to attend the school, which is managed by two non-governmental organizations, Maleo Foundation and Humanisty Foundation.
The school's construction was completed in late June, with a team of students from the nearby British International School (BIS) in Bintaro serving as the project developer.
The idea for the school was first proposed two years ago by a 16-year-old BIS student, who wanted to make a small change by providing a place where the children of scavengers could study.

These children, who he saw collecting garbage every day on his way to school, were his inspiration.
He has since graduated but his friends and younger students followed up the idea by launching the "Build-a-School" project, which was later entered in the DaimlerChrysler-sponsored UNESCO-Mondialogo Schools contest.
The competition unites partner schools from different parts of the world in a purposeful social project. BIS was partnered with Liceo Prati School in Trento, Italy, with the two schools winning the first prize of 3,500 euros (US$4,770), beating more than 1,000 schools worldwide.
The success prompted Italy's Trento regional council and individuals from DaimlerChrysler to donate to the project.

BIS teacher Adrian Thirkell, the project supervisor, said construction of the school cost around Rp 40 million (US$4,224).
"We'd use (the rest of) the money partly for maintenance, partly for cleaning the pond (near the new school building -- an ecology project), for making a garden and supporting some school activities," he said.
He said BIS would send some of its students to the school once or twice a week to help teach, and would invite students from the school to visit BIS every week.

"They can come to us for computing, cooking lessons, swimming and playing football," he said.
Thirkell talked to The Jakarta Post on Saturday after the opening ceremony for the free school, which was attended by representatives from the Italian Embassy, DaimlerChrysler Indonesia, Maleo Foundation and Humanisty Foundation.

Maleo Foundation supervisor Fuady Munir said SMP Ibnu Sina had a total of 24 teachers. However, only three are permanent teachers receiving monthly salaries, with the rest volunteers.
He said sometimes classes started late or were canceled because the students had to help their parents sort trash.
Fuady said Maleo Foundation was helping to fund the school with money donated by an Islamic study group.

"The members set aside 2.5 percent of their salary each month for the school," he said.
He said more than 150 children from poor families had applied to the school, but only 36 could be accepted because of limited facilities.
A member of Humanisty Foundation's funding team, Dewi Natira, said a lot of parents tried to get their children into Sekar Harapan kindergarten. However, only 34 were accepted.
"We wish more private institutions would fund our activities, so that we can receive more pupils," she said, adding that the kindergarten had only three teachers, including the school principal.

According to Dewi, Humanisty provides more than just book lessons for students.
It also gives handicraft-making lessons for the children's mothers, who usually wait for the children in the schoolyard during classes. The foundation also helps them sell the handicrafts.
Most of the parents of the kindergartners work as scavengers, while parents of the junior high school students have various jobs, from scavenging to selling soto ayam or peyek kacang (peanut fritters), as Adi and Dede's parents do, respectively.

Adi, whose favorite subject is English, said that he wanted to join the Army when he grew up.
Dede wants to be a veterinarian.
"It's because I like animals, especially cats and snakes," she said.
Boromeus Wanengkirion, 17, a member of the BIS "Build-a-School" team, hoped the new school would give the students a chance to succeed in life.
"I hope that they can maximize their potential and help develop the nation in the future," said the student. (11)